Perubahan Lagi

Ini bukan Rabu tapi nggak apa-apa yah untuk mengisi kekosongan Sabtu sebelumnya yang nggak jadi update karena sesuatu hal.

Hal itu adalah: rusaknya netbook tercinta. Sedihnya..

Sebenarnya, si N ini udah sempat rusak beberapa bulan sebelumnya. Namun berkat kegigihan saya mengutak-atik (yang sebenarnya nggak ngaruh apa-apa) anehnya si N masih bertahan hingga.. Sabtu kemarin.

Puncaknya adalah kejadian yang kronologisnya sebagai berikut..

Jumat malam, sekitar pukul 20.00 WIB

Saya menyalakan N dan mulai update status dan sebagainya. Setengah jam setelah itu saya mandi dan membiarkan N tetap nyala dengan kondisi dicolokin modem dan dicharge.

Selesai mandi.. N sudah berlayar gelap dengan tampilan sedang booting. Saya coba enter dan seterusnya, coba lagi dan shut down paksa, N tetap nggak mau masuk Windows. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi hingga ia ngadat dan nggak mau melakukan apa yang diperintahkan. Hiks..

Besoknya, saya bawa ke kantor untuk diliat dan dites oleh temen, sapa tau cuma butuh instal ulang. Sampai senin, N masih ngendon di kantor sendirian. Lalu akhirnya saya dapat kabar, bahwa kemungkinan yang terjadi adalah bad sector di hardisk yang perlu diperbaiki atau diganti.

Senin sore, saya bawa dia ke servisan. Sampai sekarang belum ada kabar dan berharap nggak ada yang benar-benar parah.

Fakta #1 : ganti hardisk itu lumayan mahal
Fakta #2 : saya agak susah hidup tanpa benda itu.

Solusi : sebelum N selesai diperbaiki, saya harus bersedia mengubah pola dan gaya hidup. Kalo selama ini saya lebih banyak nonton, maka sekarang lebih banyak baca. Belajar untuk menulis tangan lagi. Belajar menghargai barang yang sudah ada. Belajar untuk menyediakan waktu buat orang lain. Yeah, begitulah….

Semangat, len!

Tagged , ,

Gado-gado Minggu Ini

Haha, akhirnya masalah yang selama ini membuat saya nggak bisa tidur.. terpecahkan. Saya pindah kamar! Kali ini naik satu lantai. Yang artinya: sinyal bisa jalan lebih lancar. Nggak ada lagi istilah putus-putus atau loading lambat (kecuali kalo emang dari sananya, ya). Thanks God. Saya pikir udah nggak ada harapan buat saya, ternyataaa.. terharu banget, deh.. *lebay

Inilah postingan pertama yang meluncur dari kos baru. Cepat dan lugas (??).

Keadaan saya minggu ini antara lain sebagai berikut (mohon maaf kalo nggak penting hehehe):

1. Lagi tergila-gila sama reality shownya Korea, Running Man. Isinya tentang permainan atau semacam pertandingan menyelesaikan misi tertentu. Saya jadi kenal Gwang So, Haha, Ji Hyo, Jong Kook, dan lain-lain. Kategori: kreatif, lucu, dan menghibur.

2. Mengambil keputusan untuk posting di blog minimal dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Komitmen ini saya buat bersama Mbak Wiwin.

3. Sedang tampak gendut. Haha. Ini beneran. Banyak orang yang kaget melihat salah satu foto saya yang terakhir. “Hah? Kok sekarang kamu gendut? Kamu makan apa aja? Kenapaaa?” Hehehe. Bahkan teman-teman yang setiap hari ketemu juga sama kagetnya gara-gara satu foto itu. Ah, efek kamera. Aslinya nggak gitu-gitu banget kok :D :D :D

4. Aerobik! Hah! Heh! Huh! Setiap Senin bersama teman-teman kantor. Lumayan lah. Mengurangi poin yang nomer tiga ituu.

5. Flu untuk kesekian kalinya. Sebabnya bisa jadi karena kurang tidur karena mengejar deadline bulan ini yang benar-benar ‘hebat’. Rasanya babak belur. Belum ditambah cuaca yang panasss banget. Lengkap sudah.

Sebagai penutup, saya ingin membagikan sebuah hal. Saat ini, saya sedang dalam proses ulang memahami dan mengenal Tuhan. Ini juga salah satu resolusiku tahun ini dan saya bersyukur bisa memulainya dengan sangat cepat (sejak Januari kemarin) dan masih bertahan sampai sekarang. Panduan saya dari buku Time to Get Serious, Tony Evans.

Di minggu yang keempat, hari kedua, Evans kembali mengingatkan saya mengenai pentingnya pengenalan akan Tuhan: obedience, peace, wisdom, dan freedom. Khusus untuk yang terakhir, ia juga mengatakan begini:

“When you lack the assurance and confidence that comes from knowing Him and from knowing who you are in Him, you can become a slave to what people think, to circumstances,to your emotions, to other people’s rules and expectations – to almost anything.”

Dengan mengenal Tuhan, hal tersebut bisa dihindari dan kita menjadi manusia yang memiliki kebebasan sejati.

Tagged , , , , , ,

Kenangan

Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Kenangan. Bahkan saat ia telah terbungkus erat-erat dalam saputangan berbekas airmata.

Kulihat bangku panjang itu. Bangku yang sangat kukenal. Rapat dalam ingatan. Di sana, biasanya kita duduk berdua sambil berpegangan tangan. Angin semilir. Puluhan orang mondar-mandir namun tak pernah membuat kita terganggu. Serta lansekap kota yang begitu indah terbentang. Ini adalah rekreasi yang tak akan tergantikan, bisikmu di telingaku, waktu itu.

Hampir tiap sore. Aku ingat. Hampir tiap sore kita bertemu di sini. Ditemani cericit burung yang bertengger di dahan pohon, tepat di sebelah kiri bangku ini. Kadangkala, suara itu begitu riuh. Kadang sepi. Mungkin mereka sedang berlibur, canda kita sambil mengamati pohon itu.

Seperti kita. Saat lelah, yang sanggup meredakan setiap ketegangan adalah pertemuan. Senyummu, kataku. Mataku, katamu. Saat aku melihatmu, kau tersenyum. Sungguh perpaduan yang indah. Tak ada lagi yang kita inginkan di dunia ini. Kita bisa saling memandang seperti itu lama sekali. Sampai-sampai dua orang pasangan tua, yang berjalan-jalan santai di taman ini, memandang kita penuh heran. Anak muda zaman sekarang, pikir mereka.

Aku tidak peduli. Aku menikmati kebersamaan yang kita ciptakan di sela-sela kesibukan masing-masing. Ah, ya aku memang tidak sesibuk dirimu. Aku hanya seorang penulis cerita anak. Tinggal di rumah sampai siang, berleha-leha, dan bekerja saat ide datang menghampiri. Sejauh ini, aku belum begitu berhasil. Tapi kamu terus menghiburku. Menurutmu, aku tidak boleh menyerah.

Sementara kamu adalah seorang pekerja kantoran yang sukses. Kesana-kemari membawa tas kulit berwarna hitam. Dengan kemeja dan celana pantalon yang rapi (kadang, aku bosan dengan stelan formalmu itu). Tapi, jelas aku bangga menjadi kekasihmu.

Kita bertemu di.. benar, ingatan selalu benar. Kita bertemu tidak jauh dari tempat ini. Di gerbang masuk. Kita bertabrakan. Klasik sekali, ya. Aku buru-buru sekali mau pulang karena ibuku menelpon. Ah, akhirnya ia menghadap yang Kuasa. Dan kamu, dengan muka kusutmu, yang akhirnya kuketahui baru saja mendapat musibah besar di kantor. Itu pertemuan pertama kita. Tidak ada kata-kata. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Pertemuan selanjutnya tidak dapat dihindari. Ternyata kita punya tempat favorit yang sama. Bangku ini. Hanya saja, biasanya kamu datang lebih sore. Maklum, orang kantoran. Nah, suatu saat, aku pulang lebih lama dari biasanya. Di rumah tidak ada lagi yang menunggu, pikirku. Apa salahnya aku menunggu sebentar. Tidak lama, sebuah sapaan ringan mendarat di ruang dengarku. Itu kamu.

“Boleh saya duduk?”
Aku mengangguk. Memberimu tanda bahwa aku sedang sendirian, dan mungkin akan bersiap-siap pulang.
“Senang?”
Aku bingung. Ini jenis pertanyaan apa? Kamu seolah-olah telah mengenalku lama sekali. Padahal namamu saja aku tidak tahu.
“Maaf. Aku harus pergi.” Kataku. Aku tidak ingin memperpanjang percakapan yang membingungkan. Awalnya aku mengharap perkenalan yang biasa saja. Kamu menanyakan namaku, dan kamu menyebut namamu. Itulah kenormalan.

“Buru-buru ya?” tanyamu.
Tidak sih, kataku dalam hati. Kutatap matamu dan tidak kutemukan apa-apa di sana.
Aku beranjak dan pergi.

Pertemuan ketiga, inilah yang paling aku ingat. Sekali lagi, kamu menghampiri bangku ini. Saat aku sedang asyik iseng-iseng menggambar sesuatu nun jauh di sana. Kamu mengamati gambarku dan tersenyum. Waktu itu suasana hatiku sedang cerah. Kutanyai pendapatmu soal itu dan kamu menjawab panjang lebar. Hm, rupanya kamu tidak buta soal seni. Meski kamu berkilah hanya sebagai penikmat. Tidak apa, paling tidak kita bisa ngobrol lebih banyak mengenai satu hal yang sama-sama menarik bagi kita, dan tentu saja merencanakan sesuatu yang menyenangkan.

“Aku suka padamu.”
Aku terpaku mendengarkan pengakuan itu. Seluruh alam menjadi tiba-tiba senyap. Kau begitu cepat melontarkan pendapatmu tentang diriku. Aku menggeleng sambil tertawa ringan. “Tunggu sampai kau semakin mengenalku,” ujarku agak sinis.

Waktu adalah obat bagi hati yang terluka. Sedangkan, kenangan membuatnya tetap sakit. Bahkan yang indah sekalipun. Bangku ini tidak pernah protes saat aku menolakmu seperti itu. Memang ia tidak punya hak. Seperti kamu. Tidak punya hak untuk menghentikanku meninggalkanmu begitu saja. Aku menolak ditelpon. Tidak membaca pesan pendek apapun. Bahkan aku juga tidak datang lagi ke taman ini.

Hanya saat ini. Ketika galau datang menerjang. Kucoba menggali kenangan di tempat ini. Sambil membolak-balik agenda lusuh yang dulu kita coret bersama-sama. Tak sengaja kutemukan sehelai kartu di sana. Kamu pasti menyisipkannya diam-diam saat aku sedang asyik berbaring di pangkuanmu dengan mata yang terpejam menikmati semilir angin. .

Perasaan bersalah menyelimutiku. Hingga malam, kamu tak juga muncul. Bahkan esok harinya. Dan hari setelahnya. Kamu benar-benar meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Mungkin kamu benar-benar telah lelah.

“Aku telah mengejarmu dari kehidupan sebelumnya. Jangan pergi lagi ya. Sekali kamu pergi, berakhir sudah semuanya.”

@inspired by (500) Days of Summer

**tulisan iseng yang belum sempat diperbaiki

My Scrapbook

Entah ketularan virus dari mana sekarang saya lebih senang main scrapbook dibanding nulis catatan harian. Bisa jadi karena bosan nulis panjang-panjang, waktunya juga sedikit dan mulai nggak telaten (kecuali di blog ini :D ).

Inilah scrapbook saya yang pertama :

Ini salah dua tampilan di dalamnya :

Sejauh ini, isinya macem-macem. Dimulai dari daftar resolusi yang saya pampang di halaman pertama (jadi tiap hari bisa baca dan hafal kalo perlu hahaha). Terus, tiket-tiket nonton, beberapa quote yang saya tulis tangan atau ketik ulang, ucapan selamat ultah dari seseorang, target-target saya dan hal-hal lain yang berpengaruh buat hidup saya.

Inilah manfaat/kelebihan/keuntungan scrapbook :

1. Hemat waktu, ga perlu nulis terlalu panjang untuk menjelaskan sesuatu. Cukup dengan satu kalimat atau satu tiket yang menunjukkan bahwa saya pernah nonton itu.

2. Memancing kreativitas. Saya jadi senang melukis nggak jelas. Paling nggak menggambar pinggir-pinggir kertas dengan garis-garis melintang dan membujur ga jelas. Hehehe. Hasilnya? Emm.. lumayan kok :) :) :)

3. Melatih imajinasi. Dengan kata-kata, imajinasi kita dituntun. Tapi dengan gambar, kalimat singkat, barang bukti sederhana yang bisa ditempel, membuat imajinasi melayang kemana-mana. Saya membayangkan hal-hal baru dan terus seperti itu setiap kali melihat isi scrapbook.

4. Memelankan waktu. Mungkin ini cuma perasaan saya, tapi setiap saya membolak-balik buku biru ini, rasanya waktu jadi membeku. Saya bisa melihat secara keseluruhan apa saja yang terjadi selama sebulan dari perspektif yang lebih luas. Sekaligus membuatnya jadi semakin bermakna. Selama ini, waktu sebulan hanya lewat begitu saja tanpa saya sadari hal-hal apa saja yang pernah dilewati. Dengan scrapbook, saya semakin mudah mengingat, termasuk mengevaluasi.

Punya saya sih cuma hal-hal sederhana dan belum mencapai tahap tematis. Jangan bandingkan dengan yang udah profesional gitu. Bukunya sendiri masih buku biasa. Maklum, newbie. Terus belajar, terus belajar.

Perubahan

Kadang-kadang, kita hanya memerlukan keberanian mengambil keputusan-keputusan sulit untuk memulai sebuah perubahan.

Berapa kali dalam hidup ini kita terbentur pada dinding-dinding ketidakmungkinan? Saat segala sesuatu tampak tidak mungkin dijalani, tidak mungkin dilakukan, atau tidak mungkin dihadapi?

Berapa sering kita menghitung dan membandingkan risiko-risiko atas keputusan tersebut lantas lebih condong untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat jangka pendek, seperti kenyamanan yang sebentar, kepuasan yang tidak lama, dan sebagainya, dibanding dengan manfaat jangka panjang seperti kebahagiaan yang sejati, penerimaan diri yang seutuhnya, dan sebagainya?

Orang bijak bilang, yang pertama itu selalu sulit. Sedangkan untuk segala sesuatu selalu ada masa pertama kali. Bagaimanapun, jika ingin berhasil melakukan sesuatu (termasuk perubahan) harus berani untuk menghadapi dan menjalani kesulitan.

Entah di depan sana ada hal yang lebih menyenangkan atau justru biasa-biasa saja, bahkan menyedihkan, siapa yang tau. Bukankah hidup selalu berputar seperti itu? Semua yang menolak untuk berubah adalah mereka yang tidak mau mengecap pengalaman-pengalaman ajaib yang ditawarkan oleh hidup ini.

Setiap rasa sakit untuk setiap perubahan akan selalu sepadan. Meskipun saat ini belum terlihat apa-apa.

Senyum, Len.

Sinyalmu Dik

Hoho.. saking serunya pindahan, jadi ga ingat datang ke sini. Nggak ding. Bukan karna seru sebenarnya, tapi karna SINYAL! Huhuhu. Ternyata di kamar yang baru ini, sinyal XL buat modem.. nggak banget! Sekali cepat langsung putus. Beberapa hari ini saya coba terus dengan pemikiran bahwa si modem sedang menyesuaikan diri. Belum berhasil :(

Dengan demikian, saya harus datang lebih pagi ke kantor. Untuk nulis sebentar atau cuma posting sesuatu. Semoga ada penyelesaian.

*Masih mikir sih sebenarnya, tempat yang baru ini hanya sekitar 5km (kalo ga salah) dari tempat lama (yg artinya nggak pelosok banget :D ) yang selalu bisa dapat HSPDA. Full sinyal. Apa karena bangunan di tempat baru ini tinggi2? Apa iya sinyal bisa terhalang bangunan tinggi? *Sigh

Serba-serbi Mencari Kos (Part 3)

The Last Day

Nggak apa-apa deh.. sekali ini saya mau agak sedikit melankolis soal kepindahan kos ini.

Saya tiba-tiba menyadari. Bahwa momen ini bukan sekadar terjadi karena kebosanan tingkat tinggi atas jenis makan malam yg gitu2 aja di sekitar kos2an. Tetapi bukti bahwa pelan2 saya sudah mulai berani (atau akhirnya butuh?) keluar dari zona nyaman.

Selama hampir 1,5 tahun saya tinggal di sini. Plus 6 bulan sebelumnya di jalan yang sama (beda bbrp rumah). Saya menyukai kemapanan, kestabilan, rutinitas dan sejenisnya. Saya bangun pada jam yang sama setiap hari, sarapan yang (hampir) sama setiap hari, ritual mandi yg sama, kebiasaan yang sama, dan kegiatan yg itu2 saja. Padahal saya ini orang yang cepat bosan. Aneh bukan?

Atas beberapa hal mendesak, selama hampir dua bulan terakhir, ditambah keinginan2 jangka panjang yang butuh dukungan dari sekarang, akhirnya saya memutuskan untuk mulai lompatan pertama. Memang sederhana. Mungkin tampak ga ngaruh dengan visi yang sebenarnya. Tapi jauh dalam lubuk hati ini, saya mendadak sadar, bahwa semangat perubahan sudah dimulai.

Saya harus menjaganya, jangan sampai padam lagi. Stay focus. Satu tujuan. Meskipun dimulai dari kecil, pelan-pelan, satu demi satu. Semangat Len!

Kondisi saat ini : kamar penuh box2 warna coklat, beberapa barang berserakan, lemari udah kosong, rak buku juga kosong. sambil denger radio, posting di blog, update status di fb, belum mandi tapi udah kenyang, lampu kamar mandi mati, dan dilanda perasaan aneh (antara bahagia dan gamang).

German Cinema (Day 3 – End)

Hari terakhir. Yeay! Saya bakal merindukan buru2nya harus segera sampai di XXI biar dapet tempat duduk strategis. Bakal merindukan rasa lapar karena ga sempat makan, rasa dingin di ujung kaki (selalu lupa bawa kaos kaki), rasa nyaman di toilet remang2 nan bersih. Hehe.

Hari ini, ada dua film yang saya tonton, Poll dan Vincent Will Meer. Dua2nya baguss. Keren. Dan saya agak nyesel ga bisa nonton 3 film lainnya, Almanya, Die Welle, dan Der Baader Meinhof Komplex.

Walaupun demikian, saya benar2 puas untuk keseluruhan pelaksanaannya. Benar-benar tertib meski beberapa pemutaran agak telat karena menunggu studio terisi. Film2nya pun terpilih dan ga bikin ngantuk. Menunggu acara-acara selanjutnya dari pelaksana yang sama, terutama kerjasamanya dengan XXI. Well done.

Thanks Goethe!

German Cinema (Day 2)

Yang saya ingat di hari kedua adalah insiden terpeleset yang akhirnya membuat wajah bapak kos saya pagi-pagi udah muram.

Begini ceritanya. Hari kedua, saya pesan tiket untuk 3 film. Mulai pukul 4 sore hingga kira-kira 11 malam. Sebelum berangkat pagi itu menuju kantor, saya pamit dulu.

“Pak, nanti malam saya pulang telat, ada acara..”
Waktu itu bapak kos lagi asyik mengamati pohon mangganya sambil berjalan mondar-mandir.
“Oh, iya,” jawab beliau dengan senyum tersungging.

Nah, pas pulangnya, yang ternyata hampir pukul setengah dua belas itu, teras kos udah gelap. Lampunya mati cing. Saya sih sebenarnya nggak takut, tapi untuk menghindari hal yang macem-macem, motor masih saya biarkan menyala sampai..

“NNNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGG….!!”

Kepelesetlah saya di tempat parkir di depan kos saya sendiri. Motor langsung mengaung kenceng banget. Bayangin aja serunya suara motor yang lagi trek2an di dini hari, begitulah kira2. Hehehe.

Paginya, saya dihadiahi wajah muram nan sendu yang berarti : Anak ga tau diri, udah pulang malem, masih bangunin orang tidur :D :D :D

*Film yang saya tonton hari itu adalah Die Fremde, Goethe! dan Lila Lila. Tiga2nya bagus meskipun yang pertama udah pernah saya tonton. Kali ini studio 5 lumayan penuh karena panitia mengijinkan daftar on the spot mungkin karena mengingat hari sebelumnya banyak tempat kosong.

German Cinema (Day 1)

Sore itu hujan.

Saya dan Mbak Luci udah bertekad untuk makan dulu sebelum mulai nonton (ternyata bukan cuma belanja dan cari kos yang butuh makan dulu xixix).

“Jadi nasi goreng?” tanya saya di antara derai hujan yang makin deras.
“Jadi dong. Daripada nanti kelaperan..”

Maka meluncurlah kami menuju TKP yaaaanngg sayangnya tutup! Apes. Hujan, laper, dan waktu terus berjalan. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju XXI dan menggantungkan harapan kepada warung makan yang baru buka di sepanjang perjalanan. Maklum, sore masih terlalu muda.

Eh, tidak jauh dari XXI, sebuah tenda kuning keliatan. Horee ada tulisan nasi goreng. Kami masuk dan memesan. Setelah menunggu beberapa belas menit disertai beberapa kilatan petir, nasi goreng yang.. apa adanya tersaji di depan kami. Mungkin karena sihir hujan atau daripada kehabisan waktu, makanan itu pun langsung tandas tanpa ampun. Kenyang.

Akhirnya kami siap untuk nonton.

16.50 suasana studio 5 masih sepi. Mungkin karena hujan. Banyak yang pesan tiket by email melewatkan kesempatan istimewa ini. Itulah kelemahannya. Sementara saat pemutaran film Perancis di tempat yang sama tahun kemarin, penonton benar-benar membludak. Kursi terisi penuh karena yang niat nonton udah antri sejak sebelumnya. Yang nggak niat, ya tidur aja di rumah nggak apa-apa.

Pesan moral dari dua film yang kami tonton hari ini, Das Lied in Mir dan John Rabe, adalah :

* Bahasa itu penting. Menguasai bahasa dan lancar berbahasa itu penting. Bukan saja bahasa negara lain, tapi bahasa kita sendiri. Salah sedikit mengatakan sesuatu bisa memancing perkara yang tidak main-main. Atau justru menjadi beban untuk jangka panjang. Mumpung masih satu bahasa, apa susahnya untuk belajar fasih menyampaikan argumen, mengutarakan pendapat tanpa menyakiti orang lain.

*Jangan memaksa orang lain untuk mengatakan sesuatu yang tidak bisa engkau tanggung. Kadang-kadang, ada orang-orang yang cukup baik untuk tidak membuatmu menanggung risiko dari apa yang sudah terjadi di masa lalu. Mereka menyimpannya karena mereka – sebagai pengambil keputusan di masa itu, telah melakukan yang terbaik. Meragukan keputusan mereka sama saja dengan tidak mensyukuri apa yang sudah engkau jalani hingga kini meskipun engkau menikmatinya.

*Ada banyak hal-hal sederhana yang jika dilakukan dengan benar akan menyelamatkan hidup banyak orang. Membuang sampah pada tempatnya akan membantu menghindarkan banjir dan menyelamatkan seseorang di bantaran kali. Tidak menerobos lampu merah mungkin akan menyelamatkan nyawa seseorang, dan sebagainya. Siapa yang tahu. Semua dimulai dari hal-hal sederhana.

Tapi yang tidak kalah penting adalah jangan pernah salah mengambil tempat duduk orang karena hal itu berakibat membuatmu diusir dan menanggung malu selama lima belas detik.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.