Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Kenangan. Bahkan saat ia telah terbungkus erat-erat dalam saputangan berbekas airmata.
Kulihat bangku panjang itu. Bangku yang sangat kukenal. Rapat dalam ingatan. Di sana, biasanya kita duduk berdua sambil berpegangan tangan. Angin semilir. Puluhan orang mondar-mandir namun tak pernah membuat kita terganggu. Serta lansekap kota yang begitu indah terbentang. Ini adalah rekreasi yang tak akan tergantikan, bisikmu di telingaku, waktu itu.
Hampir tiap sore. Aku ingat. Hampir tiap sore kita bertemu di sini. Ditemani cericit burung yang bertengger di dahan pohon, tepat di sebelah kiri bangku ini. Kadangkala, suara itu begitu riuh. Kadang sepi. Mungkin mereka sedang berlibur, canda kita sambil mengamati pohon itu.
Seperti kita. Saat lelah, yang sanggup meredakan setiap ketegangan adalah pertemuan. Senyummu, kataku. Mataku, katamu. Saat aku melihatmu, kau tersenyum. Sungguh perpaduan yang indah. Tak ada lagi yang kita inginkan di dunia ini. Kita bisa saling memandang seperti itu lama sekali. Sampai-sampai dua orang pasangan tua, yang berjalan-jalan santai di taman ini, memandang kita penuh heran. Anak muda zaman sekarang, pikir mereka.
Aku tidak peduli. Aku menikmati kebersamaan yang kita ciptakan di sela-sela kesibukan masing-masing. Ah, ya aku memang tidak sesibuk dirimu. Aku hanya seorang penulis cerita anak. Tinggal di rumah sampai siang, berleha-leha, dan bekerja saat ide datang menghampiri. Sejauh ini, aku belum begitu berhasil. Tapi kamu terus menghiburku. Menurutmu, aku tidak boleh menyerah.
Sementara kamu adalah seorang pekerja kantoran yang sukses. Kesana-kemari membawa tas kulit berwarna hitam. Dengan kemeja dan celana pantalon yang rapi (kadang, aku bosan dengan stelan formalmu itu). Tapi, jelas aku bangga menjadi kekasihmu.
Kita bertemu di.. benar, ingatan selalu benar. Kita bertemu tidak jauh dari tempat ini. Di gerbang masuk. Kita bertabrakan. Klasik sekali, ya. Aku buru-buru sekali mau pulang karena ibuku menelpon. Ah, akhirnya ia menghadap yang Kuasa. Dan kamu, dengan muka kusutmu, yang akhirnya kuketahui baru saja mendapat musibah besar di kantor. Itu pertemuan pertama kita. Tidak ada kata-kata. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.
Pertemuan selanjutnya tidak dapat dihindari. Ternyata kita punya tempat favorit yang sama. Bangku ini. Hanya saja, biasanya kamu datang lebih sore. Maklum, orang kantoran. Nah, suatu saat, aku pulang lebih lama dari biasanya. Di rumah tidak ada lagi yang menunggu, pikirku. Apa salahnya aku menunggu sebentar. Tidak lama, sebuah sapaan ringan mendarat di ruang dengarku. Itu kamu.
“Boleh saya duduk?”
Aku mengangguk. Memberimu tanda bahwa aku sedang sendirian, dan mungkin akan bersiap-siap pulang.
“Senang?”
Aku bingung. Ini jenis pertanyaan apa? Kamu seolah-olah telah mengenalku lama sekali. Padahal namamu saja aku tidak tahu.
“Maaf. Aku harus pergi.” Kataku. Aku tidak ingin memperpanjang percakapan yang membingungkan. Awalnya aku mengharap perkenalan yang biasa saja. Kamu menanyakan namaku, dan kamu menyebut namamu. Itulah kenormalan.
“Buru-buru ya?” tanyamu.
Tidak sih, kataku dalam hati. Kutatap matamu dan tidak kutemukan apa-apa di sana.
Aku beranjak dan pergi.
Pertemuan ketiga, inilah yang paling aku ingat. Sekali lagi, kamu menghampiri bangku ini. Saat aku sedang asyik iseng-iseng menggambar sesuatu nun jauh di sana. Kamu mengamati gambarku dan tersenyum. Waktu itu suasana hatiku sedang cerah. Kutanyai pendapatmu soal itu dan kamu menjawab panjang lebar. Hm, rupanya kamu tidak buta soal seni. Meski kamu berkilah hanya sebagai penikmat. Tidak apa, paling tidak kita bisa ngobrol lebih banyak mengenai satu hal yang sama-sama menarik bagi kita, dan tentu saja merencanakan sesuatu yang menyenangkan.
“Aku suka padamu.”
Aku terpaku mendengarkan pengakuan itu. Seluruh alam menjadi tiba-tiba senyap. Kau begitu cepat melontarkan pendapatmu tentang diriku. Aku menggeleng sambil tertawa ringan. “Tunggu sampai kau semakin mengenalku,” ujarku agak sinis.
—
Waktu adalah obat bagi hati yang terluka. Sedangkan, kenangan membuatnya tetap sakit. Bahkan yang indah sekalipun. Bangku ini tidak pernah protes saat aku menolakmu seperti itu. Memang ia tidak punya hak. Seperti kamu. Tidak punya hak untuk menghentikanku meninggalkanmu begitu saja. Aku menolak ditelpon. Tidak membaca pesan pendek apapun. Bahkan aku juga tidak datang lagi ke taman ini.
Hanya saat ini. Ketika galau datang menerjang. Kucoba menggali kenangan di tempat ini. Sambil membolak-balik agenda lusuh yang dulu kita coret bersama-sama. Tak sengaja kutemukan sehelai kartu di sana. Kamu pasti menyisipkannya diam-diam saat aku sedang asyik berbaring di pangkuanmu dengan mata yang terpejam menikmati semilir angin. .
Perasaan bersalah menyelimutiku. Hingga malam, kamu tak juga muncul. Bahkan esok harinya. Dan hari setelahnya. Kamu benar-benar meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Mungkin kamu benar-benar telah lelah.
“Aku telah mengejarmu dari kehidupan sebelumnya. Jangan pergi lagi ya. Sekali kamu pergi, berakhir sudah semuanya.”
@inspired by (500) Days of Summer
**tulisan iseng yang belum sempat diperbaiki